Gue rada-rada suka nulis, tapi masih
amatiran sih baru belajar soalnya, nih salah satu cerita yang gue
angkat dari kehidupan di sekitar gue .sok atuh di baca ^_^
Padang, 01 maret 2012
Aku Grishel 17 tahun gadis lucu, manja, baik, sedikit pemalas
dan yang pasti aku suka banget berpetualang, gak salah dong aku ikut organisasi
siswa pecinta alam di sekolah,hmm…walaupun bunda sama ayah kayaknya kurang
suka, ah sudahlah tak perlu di perdebatkan. Dari kecil aku dan kakak memang
sering berpetualang dan sering sekali mendaki bukit di belakang rumah
nenek(bukit not gunung), bayangin aja nenek dan kakek aja belum pernah sampai
puncak bukit yang menjadi ladang mereka, tapi dengan keberanian aku dan kakak
aku bisa sampai dipuncak bukit itu, saat aku duduk di kelas 4 SD, rasanya ada
kepuasan tersendiri saat aku bisa melihat lautan dari atas bukit tersebut,
banyak sekali kenangan-kenangan waktu kecil yang membuat senyumku melebar,
waktu mencari jalan bagaimana caranya keluar dari bukit, nyasar ke ladang orang
lain, berenang di sungai sampai lupa waktu dan membuat bunda marah, waktu kecil
aku sempat berkhayal tentang banyak hal diantaranya yaitu “aku berfikir dari atas bukit saja aku bisa melihat lautan yang
sangat luas, berarti jika aku mendaki lebih tinggi dan tinggi lagi aku rasa aku
bisa melihat seluruh penjuru dunia dari atas sana” Semua hal itu yang
membuat aku ingin sekali menjadi petualang sejati dan dapat mencapai puncak
yang paling tinggi, hehe…dengan lugunya seorang anak SD yang berusia 9 tahun
berfikiran seperti itu. Sekarang tentu halnya sudah berbeda, sekarang aku telah
tumbuh menjadi remaja cantik dan mempunyai sejuta harapan untuk mewujudkan
khayalan kecilku yang aku rasa mustahil untuk melihat dunia dari satu titik
ketinggian di bumi ini.
Padang panjang, 04 maret 2012
Makanan udah, obat-obatan juga udah, ini itu hhhmmm..kayaknya
semuanya udah lengkap, lets goooo..“pagi bunda” sambil mencium kedua pipi
malaikat hatiku, ini kali pertama aku pergi mendaki gunung dan kalian tau
bagaimana perasaanku ? akupun tak bisa menjabarkan perasaanku ini J hee.. “obat-obatannya udah di bawa
gris?” ayah bertanya khawatir, ayah memang tak pernah menyetujui hoby ku ini,
ayah selalu menilai aku mempunyai fisik yang lemah, tapi aku tak pernah merasa
fisikku ini lemah, dari kecil aku memang sering sakit-sakitan tapi itu bukan
penghalang bagiku untuk mewujudkan hobyku ini, “udah semua bos” aku menjawab
tegas pertanyaan ayah dengan senyum yang sangat lebar. “ayah bunda grishel
pergi yah, kakak jagain bunda jangan sampai bunda gila karena kangen aku..he”…
Awal dari mimpiku, sekarang aku telah berada di kaki gunung
merapi, rasanya sudah tak sabar untuk memberi salam pada gunung ini dan mencium
aroma alam yang sejuk dari atas puncaknya, aku pergi dengan rombongan SISPALA
sekolah ku dan kakak-kakak MPU, ada satu hal yang membuatku semangat untuk
pergi yaitu kak galang, dari awal aku kenal dia aku merasa tenang dan nyaman di
dekatnya, pagi itu dia memakai sweater hitam, celana pendek hitam, sandal eager,
kerel, dan tak lupa juga sapu tangan yang sering dia lilitkan di pergelangan
tangan kanannya, sederhana namun dapat menarik perhatianku, perjalanan dapat di
tempuh dalam waktu 6 jam sampai di cadas dan dari cadas menuju puncak kurang
lebih 3 jam, tak ada rasa letih, lelah, ataupun bosan untuk melangkahkan kaki
menuju puncak gunung ini, aku selalu teringat masa kecil ku dan aku yakin dari
atas sana aku akan menemukan pemandangan yang lebih menakjubkan dan indah dari
pada lautan yang ku lihat dari atas bukit.
Perjuanganku tak sia-sia, kelopak mataku tak dapat berkedip
sempurna, aku sangat takjub ,haru, dan senang semua rasa bercampur menjadi satu,
mataku berkaca-kaca sambil berkata subhanallah alam ciptaanmu sungguh indah
tuhan, sekarang aku bisa menulis cerita yang lebih indah dari pada ceritaku
waktu kecil, dari sini aku dapat melihat awan yang berjalan lembut yang tak ku
temui saat aku mendaki bukit bersama kakak.
Malam api unggun, 04 maret 2012
Kata teh melly “kalau
cinta sebaiknya di ucap,karena belum tentu kita masih punya hari esok”
Aku sayang tapi tak mungkin rasanya aku yang
mengungkapkannya, malam itu dia menamparku dengan penuh kebencian, dia mengira
akulah yang telah mendorong risa sampai tersungkur ke tanah, padahal itu murni
kecelakaan, ku kedip-kedipkan mata menelan ludah sambil menggigit bibir bagian bawahku
berharap air mata ini tak jatuh ke pipi, dan aku berhasil, malam itu tak
setetespun air mataku jatuh di hadapannya, malam itu rasanya aku kehilangan
nyawa, laki-laki yang ku suka dan ku kagumi malah menamparku dengan penuh rasa
benci di depan gadis yang tak pernah menyukai ku dan selalu mencari masalah,
rasanya ini tidak adil, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Gunung merapi
salah satu gunung yang ingin ku daki, sekarang aku telah sampai puncaknya, tapi
puncak kesabarankupun di uji di sini, gara-gara risa yang suka membalikkan
fakta. Malam itu aku menjauh dari galang, sendiri berjalan mencari tempat
untukku keluarkan semua air mata ini, akhirnya aku berhenti di belakang sebuah
batu, aku duduk dan ku peluk ke dua kakiku sambil menundukkan kepala, tetes
demi tetesan air matakupun mengalir, sakit rasanya di dada, serasa ada duri yang
menusuk-nusuk hatiku sampai-sampai akupun sulit untuk menghembuskan nafas,
hhmm..hanya bisa menghela nafas panjang dan berharap semuanya baik-baik saja,
ingin rasanya berteriak ini tidak ADIL!! tapi aku hanya sendiri dan tak punya
daya apa-apa, sesekali kedua bola mataku melirik ke langit yang di taburi
bintang-bintang, kedua bola mata ini terasa letih selalu menahan bulir-bulir
air mata. Rasanya sudah cukup aku mengeluarkan emosi jiwa ku di sini, aku
kembali memasang wajah ceria seolah-olah tak ada masalah dan melangkah kembali
menuju api unggun, dia melihat panjang ke arahku, aku tak bisa mengambil
kesimpulan dia begitu karena dia hiba padaku atau memang karena benci, ah..aku
tak peduli, risa lagi-lagi ada di dekatnya, ingin rasanya aku cakar wajahnya
yang seperti badak itu, yang selalu bermanis muka dan lidah sama semua orang, aku
duduk berhadapan dengan galang dan risa, kami hanya di batasi api unggun yang
menyala perkasa, tiba-tiba badanku terasa sangat kaku dan lemah, semua
teman-teman ku panik melihat darah yang keluar dari hidungku, disini aku masih
mencoba tenang dan membela diri bahwa ini hanya mimisan saja, aku segera
meninggalkan acara api unggun dan berjalan sempoyongan ke tenda, belum sampai
di dalam tenda tubuhkupun tumbang mataku berkunang-kunang, aku melihat dengan
jelas wajahnya yang panic menggendongku ke dalam tenda, dan setelah itu
semuanya gelap. Paginya aku terbangun galang terlihat tertidur pulas di
sampingku, sepertinya semalaman dia menjagaku di sini, “kamu udah bangun ? udah
baikkan ?” aku hanya diam dan meninggalkan galang, rasanya tamparan semalam
sudah cukup membuat tetesan darah jatuh ke lukaku. “kakak udah bangun? Gimana
keadaannya sekarang kak ? tita bertanya lugu kepadaku, tita adalah juniorku di
sini dan dia salah satu teman curhat yang bisa ku percaya “kakak udah baikkan
kok J”. Aku rasa Cuma tita yang mengerti
perasaanku dan cuma tita juga yang tau bahwa aku menyukai galang,” kakak
marahan sama kak galang ya” “kamu lihat sendirikan semalam apa yang udah dia
lakuin ke kakak? Dan kakak rasa semuanya gak bakal kayak dulu lagi, sebaiknya
rasa ini kakak buang aja, percuma di simpan” aku berbicara dengan bibir gemetar
lalu pergi meninggalkan tita dengan wajah memelas sambil mengusab air mata
dengan punggung tanganku.
Malam ke dua aku di puncak merapi, aku berharap pendakian
pertamaku menyenangkan bersama orang yang ku sayang, uh tapi malah sebaliknya,
tak sesuai rencanaku, malah semuanya terbalik, dia malah membuat moodku hilang.
Teman-teman yang lain sedang menyiapkan api unggun di luar tenda, sedangkan aku
tetap di dalam tenda memakai sweater yang tebal dua lapis dan selimut, aku rasa
ada yang tidak baik dengan tubuhku tapi tak pernah ku hiraukan hal itu,
“kakak
kenapa ? masih sakit ya ?”
“enggak kok ta, kakak baik-baik aja”
“gabung yuk kak sama yang lain ?”
“iyah..”
Padahal malam itu rasanya aku sudah tak kuat lagi menopang
berat badanku sendiri, tapi demi seorang galang aku harus sanggup untuk
berjalan ke luar tenda, aku tidak mau di anggap wanita lemah hanya karena
tamparan kemaren malam, seperti biasa
risa selalu ada di samping galang, di bilang pacaran si enggak, tapi emang
dasar risanya aja kecentilan ngintilin galang terus, malam itu teman-teman yang
lain bernyanyi sampai pagi, hanya aku yang mengasingkan diri dari yang lain, yang
masih saja setia dengan air mata memikirkan kejadian malam itu, apa galang tak
punya hati sampai-sampai dia tak mau mendengar penjelasanku, apa risa telah mencuci
otaknya sehingga dia tak lagi mempercayaiku??, semua fikiran buruk terus
singgah di otakku, tanganku menulis sebuah pesan untuk galang di atas selembar
tisu.
Galang,
Lihat aku dan hatiku sedetik
saja, aku hanya ingin sampaikan permintaan hatiku yang tak dapat ku simpan lagi
sebelum terlambat !!
Grishel..
Angin terserah padamu tisu ini mau kau damparkan kemana, aku
hanya berharap orang yang ku tuju dapat mengerti perasaanku, kugenggam
erat-erat tisu ini sampai tak berbentuk, GELAP.
Grishel gris ? bangun gris…???
Galang menggendongku ke tenda, mata galang melirik kearah
genggamanku, galang membacanya,iyah dia membaca tulisanku!!!
Galang mematung membaca tulisanku.
Nada dering hanphoneku berbunyi, satu pesan dari ayah, galang
membukanya.
Grishel obat yang bundamu kasih
jangan lupa di minum yah, ingat !! jaga kesehatanmu, dokter bilang penyakitmu
tidak main-main, dan ayah mengijinkanmu pergi karena kau memohon sekali ini
saja untuk bertemu galang.
Ayah..
Galang terdiam membaca pesan dari ayah dan tulisan di tisu
itu, dia kebingungan sebenarnya apa yang terjadi dengan ku, bathinnya seperti
di pukul-pukul, dia menyesal telah menamparku malam itu, andai dia tau aku
pergi mendaki untuknya dan untuk impian kecilku mungkin dia tidak akan
melakukan hal buruk itu.
Aku tau ayah sangat menyayangiku aku juga tau ayah melarangku
mendaki karena ayah tidak mau aku kenapa-napa, penyakit ini memang sudah
menggerogoti tubuhku, tapi aku juga tidak ingin matiku hanya berbaring di
tempat tidur, aku tidak ingin matiku sia-sia, aku ingin matiku di tempat yang
pernah ku impikan sewaktu kecil, dan sekarang mimpi kecilku terwujud.
AKU DAPAT MELIHAT DUNIA
DARI SINI !!
sekarang aku berada sangat tinggi dari kalian (dunia lain). Sekarang aku bisa
pergi dengan sejuta cerita yang inginku sampaikan pada tuhan, tentang aku,
kamu, dan kalian, tentang pendakian kita.
“kalau cinta sebaiknya di ucap, karena belum tentu kita masih
punya hari esok”
Sekian … ^_^”
---“CHLAUDIA MARETA”---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar