Senin, 19 Maret 2012

AKU DAPAT MELIHAT DUNIA DARI PUNCAK INI

Gue rada-rada suka nulis, tapi masih amatiran sih baru belajar soalnya, nih salah satu cerita yang gue angkat dari kehidupan di sekitar gue .sok atuh di baca ^_^


Padang, 01 maret 2012

Aku Grishel 17 tahun gadis lucu, manja, baik, sedikit pemalas dan yang pasti aku suka banget berpetualang, gak salah dong aku ikut organisasi siswa pecinta alam di sekolah,hmm…walaupun bunda sama ayah kayaknya kurang suka, ah sudahlah tak perlu di perdebatkan. Dari kecil aku dan kakak memang sering berpetualang dan sering sekali mendaki bukit di belakang rumah nenek(bukit not gunung), bayangin aja nenek dan kakek aja belum pernah sampai puncak bukit yang menjadi ladang mereka, tapi dengan keberanian aku dan kakak aku bisa sampai dipuncak bukit itu, saat aku duduk di kelas 4 SD, rasanya ada kepuasan tersendiri saat aku bisa melihat lautan dari atas bukit tersebut, banyak sekali kenangan-kenangan waktu kecil yang membuat senyumku melebar, waktu mencari jalan bagaimana caranya keluar dari bukit, nyasar ke ladang orang lain, berenang di sungai sampai lupa waktu dan membuat bunda marah, waktu kecil aku sempat berkhayal tentang banyak hal diantaranya yaitu “aku berfikir dari atas bukit saja aku bisa melihat lautan yang sangat luas, berarti jika aku mendaki lebih tinggi dan tinggi lagi aku rasa aku bisa melihat seluruh penjuru dunia dari atas sana” Semua hal itu yang membuat aku ingin sekali menjadi petualang sejati dan dapat mencapai puncak yang paling tinggi, hehe…dengan lugunya seorang anak SD yang berusia 9 tahun berfikiran seperti itu. Sekarang tentu halnya sudah berbeda, sekarang aku telah tumbuh menjadi remaja cantik dan mempunyai sejuta harapan untuk mewujudkan khayalan kecilku yang aku rasa mustahil untuk melihat dunia dari satu titik ketinggian di bumi ini.

Padang panjang, 04 maret 2012

Makanan udah, obat-obatan juga udah, ini itu hhhmmm..kayaknya semuanya udah lengkap, lets goooo..“pagi bunda” sambil mencium kedua pipi malaikat hatiku, ini kali pertama aku pergi mendaki gunung dan kalian tau bagaimana perasaanku ? akupun tak bisa menjabarkan perasaanku ini J hee.. “obat-obatannya udah di bawa gris?” ayah bertanya khawatir, ayah memang tak pernah menyetujui hoby ku ini, ayah selalu menilai aku mempunyai fisik yang lemah, tapi aku tak pernah merasa fisikku ini lemah, dari kecil aku memang sering sakit-sakitan tapi itu bukan penghalang bagiku untuk mewujudkan hobyku ini, “udah semua bos” aku menjawab tegas pertanyaan ayah dengan senyum yang sangat lebar. “ayah bunda grishel pergi yah, kakak jagain bunda jangan sampai bunda gila karena kangen aku..he”…
Awal dari mimpiku, sekarang aku telah berada di kaki gunung merapi, rasanya sudah tak sabar untuk memberi salam pada gunung ini dan mencium aroma alam yang sejuk dari atas puncaknya, aku pergi dengan rombongan SISPALA sekolah ku dan kakak-kakak MPU, ada satu hal yang membuatku semangat untuk pergi yaitu kak galang, dari awal aku kenal dia aku merasa tenang dan nyaman di dekatnya, pagi itu dia memakai sweater hitam, celana pendek hitam, sandal eager, kerel, dan tak lupa juga sapu tangan yang sering dia lilitkan di pergelangan tangan kanannya, sederhana namun dapat menarik perhatianku, perjalanan dapat di tempuh dalam waktu 6 jam sampai di cadas dan dari cadas menuju puncak kurang lebih 3 jam, tak ada rasa letih, lelah, ataupun bosan untuk melangkahkan kaki menuju puncak gunung ini, aku selalu teringat masa kecil ku dan aku yakin dari atas sana aku akan menemukan pemandangan yang lebih menakjubkan dan indah dari pada lautan yang ku lihat dari atas bukit.
Perjuanganku tak sia-sia, kelopak mataku tak dapat berkedip sempurna, aku sangat takjub ,haru, dan senang semua rasa bercampur menjadi satu, mataku berkaca-kaca sambil berkata subhanallah alam ciptaanmu sungguh indah tuhan, sekarang aku bisa menulis cerita yang lebih indah dari pada ceritaku waktu kecil, dari sini aku dapat melihat awan yang berjalan lembut yang tak ku temui saat aku mendaki bukit bersama kakak.

Malam api unggun, 04 maret 2012

Kata teh melly “kalau cinta sebaiknya di ucap,karena belum tentu kita masih punya hari esok”
Aku sayang tapi tak mungkin rasanya aku yang mengungkapkannya, malam itu dia menamparku dengan penuh kebencian, dia mengira akulah yang telah mendorong risa sampai tersungkur ke tanah, padahal itu murni kecelakaan, ku kedip-kedipkan mata menelan ludah sambil menggigit bibir bagian bawahku berharap air mata ini tak jatuh ke pipi, dan aku berhasil, malam itu tak setetespun air mataku jatuh di hadapannya, malam itu rasanya aku kehilangan nyawa, laki-laki yang ku suka dan ku kagumi malah menamparku dengan penuh rasa benci di depan gadis yang tak pernah menyukai ku dan selalu mencari masalah, rasanya ini tidak adil, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Gunung merapi salah satu gunung yang ingin ku daki, sekarang aku telah sampai puncaknya, tapi puncak kesabarankupun di uji di sini, gara-gara risa yang suka membalikkan fakta. Malam itu aku menjauh dari galang, sendiri berjalan mencari tempat untukku keluarkan semua air mata ini, akhirnya aku berhenti di belakang sebuah batu, aku duduk dan ku peluk ke dua kakiku sambil menundukkan kepala, tetes demi tetesan air matakupun mengalir, sakit rasanya di dada, serasa ada duri yang menusuk-nusuk hatiku sampai-sampai akupun sulit untuk menghembuskan nafas, hhmm..hanya bisa menghela nafas panjang dan berharap semuanya baik-baik saja, ingin rasanya berteriak ini tidak ADIL!! tapi aku hanya sendiri dan tak punya daya apa-apa, sesekali kedua bola mataku melirik ke langit yang di taburi bintang-bintang, kedua bola mata ini terasa letih selalu menahan bulir-bulir air mata. Rasanya sudah cukup aku mengeluarkan emosi jiwa ku di sini, aku kembali memasang wajah ceria seolah-olah tak ada masalah dan melangkah kembali menuju api unggun, dia melihat panjang ke arahku, aku tak bisa mengambil kesimpulan dia begitu karena dia hiba padaku atau memang karena benci, ah..aku tak peduli, risa lagi-lagi ada di dekatnya, ingin rasanya aku cakar wajahnya yang seperti badak itu, yang selalu bermanis muka dan lidah sama semua orang, aku duduk berhadapan dengan galang dan risa, kami hanya di batasi api unggun yang menyala perkasa, tiba-tiba badanku terasa sangat kaku dan lemah, semua teman-teman ku panik melihat darah yang keluar dari hidungku, disini aku masih mencoba tenang dan membela diri bahwa ini hanya mimisan saja, aku segera meninggalkan acara api unggun dan berjalan sempoyongan ke tenda, belum sampai di dalam tenda tubuhkupun tumbang mataku berkunang-kunang, aku melihat dengan jelas wajahnya yang panic menggendongku ke dalam tenda, dan setelah itu semuanya gelap. Paginya aku terbangun galang terlihat tertidur pulas di sampingku, sepertinya semalaman dia menjagaku di sini, “kamu udah bangun ? udah baikkan ?” aku hanya diam dan meninggalkan galang, rasanya tamparan semalam sudah cukup membuat tetesan darah jatuh ke lukaku. “kakak udah bangun? Gimana keadaannya sekarang kak ? tita bertanya lugu kepadaku, tita adalah juniorku di sini dan dia salah satu teman curhat yang bisa ku percaya “kakak udah baikkan kok J”. Aku rasa Cuma tita yang mengerti perasaanku dan cuma tita juga yang tau bahwa aku menyukai galang,” kakak marahan sama kak galang ya” “kamu lihat sendirikan semalam apa yang udah dia lakuin ke kakak? Dan kakak rasa semuanya gak bakal kayak dulu lagi, sebaiknya rasa ini kakak buang aja, percuma di simpan” aku berbicara dengan bibir gemetar lalu pergi meninggalkan tita dengan wajah memelas sambil mengusab air mata dengan punggung tanganku.
Malam ke dua aku di puncak merapi, aku berharap pendakian pertamaku menyenangkan bersama orang yang ku sayang, uh tapi malah sebaliknya, tak sesuai rencanaku, malah semuanya terbalik, dia malah membuat moodku hilang. Teman-teman yang lain sedang menyiapkan api unggun di luar tenda, sedangkan aku tetap di dalam tenda memakai sweater yang tebal dua lapis dan selimut, aku rasa ada yang tidak baik dengan tubuhku tapi tak pernah ku hiraukan hal itu, 
“kakak kenapa ? masih sakit ya ?”
“enggak kok ta, kakak baik-baik aja”
“gabung yuk kak sama yang lain ?”
“iyah..”
Padahal malam itu rasanya aku sudah tak kuat lagi menopang berat badanku sendiri, tapi demi seorang galang aku harus sanggup untuk berjalan ke luar tenda, aku tidak mau di anggap wanita lemah hanya karena tamparan  kemaren malam, seperti biasa risa selalu ada di samping galang, di bilang pacaran si enggak, tapi emang dasar risanya aja kecentilan ngintilin galang terus, malam itu teman-teman yang lain bernyanyi sampai pagi, hanya aku yang mengasingkan diri dari yang lain, yang masih saja setia dengan air mata memikirkan kejadian malam itu, apa galang tak punya hati sampai-sampai dia tak mau mendengar penjelasanku, apa risa telah mencuci otaknya sehingga dia tak lagi mempercayaiku??, semua fikiran buruk terus singgah di otakku, tanganku menulis sebuah pesan untuk galang di atas selembar tisu.

Galang,
Lihat aku dan hatiku sedetik saja, aku hanya ingin sampaikan permintaan hatiku yang tak dapat ku simpan lagi sebelum terlambat !!
Grishel..
Angin terserah padamu tisu ini mau kau damparkan kemana, aku hanya berharap orang yang ku tuju dapat mengerti perasaanku, kugenggam erat-erat tisu ini sampai tak berbentuk, GELAP.
Grishel gris ? bangun gris…???
Galang menggendongku ke tenda, mata galang melirik kearah genggamanku, galang membacanya,iyah dia membaca tulisanku!!!
Galang mematung membaca tulisanku.
Nada dering hanphoneku berbunyi, satu pesan dari ayah, galang membukanya.
Grishel obat yang bundamu kasih jangan lupa di minum yah, ingat !! jaga kesehatanmu, dokter bilang penyakitmu tidak main-main, dan ayah mengijinkanmu pergi karena kau memohon sekali ini saja untuk bertemu galang.
Ayah..
Galang terdiam membaca pesan dari ayah dan tulisan di tisu itu, dia kebingungan sebenarnya apa yang terjadi dengan ku, bathinnya seperti di pukul-pukul, dia menyesal telah menamparku malam itu, andai dia tau aku pergi mendaki untuknya dan untuk impian kecilku mungkin dia tidak akan melakukan hal buruk itu.
Aku tau ayah sangat menyayangiku aku juga tau ayah melarangku mendaki karena ayah tidak mau aku kenapa-napa, penyakit ini memang sudah menggerogoti tubuhku, tapi aku juga tidak ingin matiku hanya berbaring di tempat tidur, aku tidak ingin matiku sia-sia, aku ingin matiku di tempat yang pernah ku impikan sewaktu kecil, dan sekarang mimpi kecilku terwujud.
AKU DAPAT MELIHAT DUNIA DARI SINI !! sekarang aku berada sangat tinggi dari kalian (dunia lain). Sekarang aku bisa pergi dengan sejuta cerita yang inginku sampaikan pada tuhan, tentang aku, kamu, dan kalian, tentang pendakian kita.

“kalau cinta sebaiknya di ucap, karena belum tentu kita masih punya hari esok”

Sekian … ^_^”

---“CHLAUDIA MARETA”---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar